Hari itu, tepatnya pukul 19.50 WIB tanggal 04 Januari 1994, aku dilahirkan oleh seorang perempuan yang sangat berharga bagiku, beliau adalah ibuku. Tetes demi tetes keringat beliau keluarkan demi memperjuangkan hidupnya dengan hidupku. Bahagia tersirat dalam benaknya akan kelahiranku pada hari itu. Timangan yang tiada henti takkan pernah berhenti seraya menidurkanku meski dirinya terasa letih. Begitu pun sosok seorang laki-laki yang setia mendampingi ibuku di saat tengah mengandungku hingga melahirkanku, yaitu bapakku. Tanpa sedikit keluhan mereka merawatku dari hari demi hari. Beruntung aku dilahirkan di tengah-tengah mereka yang menyayangiku dan bersedia merawatku.
Nda mulai mengerti betapa luasnya dunia setelah dilahirkan. Yang mulanya hanya berada di dalam perut seorang ibu, kini mulai menghirup udara sama seperti bayi pada umumnya yang telah lahir di bumi.
Tanpa sedikit kurang suatu apapun, nda lahir di dunia dengan bantuan ibu Bidan yang bernama Bu Sri. Hingga saat ini, apabila nda pulang ke desa tempat dimana nda dilahirkan, jika nda bertemu beliau, beliau masih ingat dengan aku, seorang putri yang dahulu beliau bantu saat ibundanya melahirkan.
Ya, aku adalah seorang anak yang dilahirkan di desa. Ketika itu, orang tuaku adalah seorang perantau dimana tak punya sanak saudara disana. Itu yang membuat ibu dari ibuku, yaitu nenek ku mengingkan bahwa aku harus dirawat di desa karena iba melihat ibu ku yang kala itu masih awam dalam mengurus anak, maklum aku adalah anak pertama mereka.
Keinginan nenekku dikabulkan oleh kedua orang tuaku. Setelah aku dilahirkan disana, aku juga dirawat disana. Tetapi, aku dan ibu terpisah oleh ayahku. Ayahku tetap melakukan tugasnya untuk mencari nafkah di Surabaya. Hanya saja beliau kadang menilikku dan ibu di desa untuk beberapa hari kemudian kembali lagi bekerja.
Keadaan yang demikian berjalan cukup singkat, hanya sekitar 7 bulan saja. Ibuku mulai meyakinkan nenekku beserta keluarga di desa bahwa ibuku telah membulatkan tekad untuk mengurusku berdua dengan suaminya saja. Alhasil, aku beserta ibu ikut dengan ayah ketika ayah pulang ke desa untuk menilikku yang kesekian kalinya.
Dengan berat hati dan sedikit tetesan air mata, nenekku membiarkan aku beserta anak dan menantunya hidup di kota yang keras itu.
Sesampainya di Surabaya, aku mulai merasakan panasnya udara di kota. Kedua orang tuaku dengan lembut mengajariku tanpa lelah dan letih sedikitpun hingga aku mengerti ini dan itu. Dan di usiaku yang menginjak ke bulan 9, aku telah dapat berbicara serta berjalan. Itu semua berkat mereka yang mengajariku segalanya.
Hingga pada suatu hari, tiba saatnya aku mengenal Pendidikan yang semestinya, yaitu sekolah.
Nda mulai mengerti betapa luasnya dunia setelah dilahirkan. Yang mulanya hanya berada di dalam perut seorang ibu, kini mulai menghirup udara sama seperti bayi pada umumnya yang telah lahir di bumi.
Tanpa sedikit kurang suatu apapun, nda lahir di dunia dengan bantuan ibu Bidan yang bernama Bu Sri. Hingga saat ini, apabila nda pulang ke desa tempat dimana nda dilahirkan, jika nda bertemu beliau, beliau masih ingat dengan aku, seorang putri yang dahulu beliau bantu saat ibundanya melahirkan.
Ya, aku adalah seorang anak yang dilahirkan di desa. Ketika itu, orang tuaku adalah seorang perantau dimana tak punya sanak saudara disana. Itu yang membuat ibu dari ibuku, yaitu nenek ku mengingkan bahwa aku harus dirawat di desa karena iba melihat ibu ku yang kala itu masih awam dalam mengurus anak, maklum aku adalah anak pertama mereka.
Keinginan nenekku dikabulkan oleh kedua orang tuaku. Setelah aku dilahirkan disana, aku juga dirawat disana. Tetapi, aku dan ibu terpisah oleh ayahku. Ayahku tetap melakukan tugasnya untuk mencari nafkah di Surabaya. Hanya saja beliau kadang menilikku dan ibu di desa untuk beberapa hari kemudian kembali lagi bekerja.
Keadaan yang demikian berjalan cukup singkat, hanya sekitar 7 bulan saja. Ibuku mulai meyakinkan nenekku beserta keluarga di desa bahwa ibuku telah membulatkan tekad untuk mengurusku berdua dengan suaminya saja. Alhasil, aku beserta ibu ikut dengan ayah ketika ayah pulang ke desa untuk menilikku yang kesekian kalinya.
Dengan berat hati dan sedikit tetesan air mata, nenekku membiarkan aku beserta anak dan menantunya hidup di kota yang keras itu.
Sesampainya di Surabaya, aku mulai merasakan panasnya udara di kota. Kedua orang tuaku dengan lembut mengajariku tanpa lelah dan letih sedikitpun hingga aku mengerti ini dan itu. Dan di usiaku yang menginjak ke bulan 9, aku telah dapat berbicara serta berjalan. Itu semua berkat mereka yang mengajariku segalanya.
Hingga pada suatu hari, tiba saatnya aku mengenal Pendidikan yang semestinya, yaitu sekolah.
